Rabu, Januari 13, 2016

Tahun 2016

Semoga senantiasa diberikan kesehatan.

Semoga semakin bijak berpendapat dalam bentuk ide, tulisan, dan tindakan.

Semoga terlahir rencana-rencana baru dan menjadi produktif karena rencana-rencana tersebut.

Semoga semua kebohongan masih terjaga dengan baik.

Semoga Chelsea Islan mampir ke toko, belanja plastik.

Semoga yang baik, atau yang kurang baik di tahun ini, mampu dipahami sebagai pembelajaran yang bermanfaat.

Dan selalu bersyukur untuk hidup yang indah ini.

Kamis, Maret 20, 2014

Cinta itu Memang Buta.

Oleh M. Zaid Wahyudi dalam Kompas 12 Maret 2014

ATAS nama cinta, Ahmad Imam alias Hafitd (19) dan Assifa Rahmadhani (18) tersandung kasus. Mereka diduga tega menyiksa dan membunuh Ade Sara Angelina (19). Konon, sakit hati dan dendam karena diputuskan Sara membuat Hafitd melupakan rasa cintanya pada Sara. Sementara itu, cemburu membuat Assifa gelap mata hingga bersedia membantu membinasakan Sara, pesaingnya.

Cinta memang buta. Andreas Bartels dan Semir Zeki dalam The Neural Basis of Romantic Love di Neuroreport Volume 11 Nomor 17 Tahun 2000 menyebutkan, saat jatuh cinta, bagian otak depan yang disebut korteks prefrontal yang mengatur logika menjadi tumpul. Sebaliknya, bagian otak yang mengendalikan emosi menguat. Kuatnya ikatan emosional saat rasa cinta muncul membuat kemampuan seseorang dalam menilai orang lain melemah.

”Cinta memang tidak rasional karena ia adalah letupan perasaan emosional yang dibalut oleh berbagai kebutuhan, seperti kebutuhan untuk menyayangi ataupun ingin disayangi,” kata Sekretaris Jenderal Masyarakat Neurosains Indonesia, yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Taufiq Pasiak, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (10/3).

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Pingkan CB Rumondor, mengatakan, munculnya rasa cinta tidak bisa direncanakan dan tidak bisa dihindari. Perasaan itu juga sulit dikendalikan, apalagi dihilangkan. Semakin dalam seseorang memendam cinta, rasa cinta akan semakin muncul menggebu-gebu.

Walau cinta tak bisa dikendalikan, tindakan seseorang setelah munculnya rasa cinta bisa dikendalikan. ”Pengendalian menuntut pengakuan diri bahwa ia sedang jatuh cinta,” katanya.

Pengendalian tindakan itu dilakukan dengan melihat kenyataan yang ada. Di sinilah penilaian atas rasa cinta yang muncul pada diri dilakukan, seperti, apakah orang yang kita cintai juga mencintai kita atau apakah rasa cinta itu jatuh pada orang yang tepat tanpa melanggar norma dan budaya.

Untuk bisa menilai cinta yang muncul, seseorang memerlukan perasaan bahwa dirinya berharga. Artinya, apa pun hasil penilaian itu, apakah cintanya diterima atau justru bertepuk sebelah tangan, maka dirinya tetap berharga. Penolakan tidak mengurangi harga dirinya.

Sakit hati, sedih, depresi, galau, atau rasa tidak diterima dan dihargai yang muncul akibat penolakan cinta, termasuk saat diputuskan cinta, adalah perasaan yang wajar. Kehadiran berbagai emosi negatif itu justru baik secara psikologi. ”Justru jika setelah cintanya ditolak langsung move on, misalnya langsung punya pacar lagi, itu justru tidak sehat. Perasaan sedih yang muncul akan terselubungi dan bisa mengganggu hubungan berikutnya,” kata Pingkan.

Namun, apa yang diduga dilakukan Hafitd dan Assifa bukanlah cinta. Rasa sakit hati, cemburu, dan takut kehilangan lebih mendominasi. Emosi negatif itu meledak dalam tindakan yang justru melanggar norma dan budaya.

”Cinta itu ada gairah, keintiman, dan komitmen. Cinta membuat dua individu tetap menjadi dirinya sendiri, tetapi sama-sama saling peduli,” kata Pingkan. Dalam kasus yang diduga dilakukan Hafitd dan Assifa, perasaan yang lebih mengemuka adalah rasa kecewa, marah, merasa tidak dihargai dan tidak bisa menghargai diri sendiri. Itu bukan cinta.

Kejam

Kekejaman dalam proses pembunuhan Sara dengan cara memukul, menyetrum selama berjam-jam, dan menyumpal mulut korban dengan kertas hingga membuang jasadnya ke kolong jembatan Tol Bintara, Bekasi Barat (Kompas, 6/3 dan 7/3), merupakan bentuk ketakutan dan kekhawatiran pelaku.

”Kekejaman itu dilakukan sebagai upaya pertahanan diri agar penyiksaan yang berakhir dengan pembunuhan itu tidak diketahui orang,” kata Taufiq.

Meskipun upaya pembunuhan itu direncanakan, membunuh seseorang bukan persoalan gampang, kecuali bagi pembunuh profesional. Apalagi pembunuhan dilakukan dengan cara menyiksa korban selama berjam-jam.

Saat amarah muncul, lelaki umumnya melampiaskan dengan tindakan fisik, baik melalui gerakan tangan maupun kaki. Pada kondisi ini, bagian otak yang lebih aktif adalah sistem limbik yang mengontrol emosi bekerja sama dengan bagian otak yang mengatur sistem motorik.

Adapun pada perempuan, saat murka melanda, bagian otak yang lebih aktif adalah girus singulat (cingulate gyrus), yaitu otak sadar yang merupakan bagian dari korteks prefrontal. Ini adalah bagian otak untuk berpikir rasional, bukan sistem limbik yang juga dimiliki otak binatang. Karena itu, kemarahan pada perempuan biasanya berwujud mata mendelik, tidak menggunakan tubuhnya untuk melakukan kekerasan.

Karena itu, jika ada perempuan sanggup melakukan perbuatan fisik untuk melukai orang lain sebagai ungkapan amarah, Taufiq menduga, itu akibat situasi yang membuat otak rasional perempuan menjadi tumpul dan emosinya justru lebih mengemuka.

”Hilangnya rasionalitas yang tergantikan oleh agresivitas untuk mempertahankan diri adalah bentuk pertahanan diri yang paling primitif pada makhluk hidup,” ujar Taufiq.

Rasionalitas sebenarnya bisa dibangun jika anak sejak dini diajarkan untuk melogika segala sesuatu yang ada di sekitarnya, termasuk tindakannya. Namun, emosi akan mengemuka dan rasionalitas menjadi tumpul jika anak terbiasa diasuh dengan aturan ”pokoknya...” tanpa menjelaskan alasan di balik setiap aturan yang diberlakukan.

Pendidikan di sekolah yang lebih mengedepankan dogma dan hafalan akan semakin memperparah kemampuan bernalar anak. ”Rasionalitas yang muncul akan mendorong seseorang mencintai sewajarnya, bukan serakah terhadap cinta. Cinta yang sewajarnya hanya bisa diperoleh jika seseorang juga memiliki benci yang sewajarnya. Jika cinta dan benci berlebihan, yang muncul adalah malapetaka,” ujar Taufiq.

Bentuk cinta yang paling rendah adalah mengagumi, hanya terikat pada keindahan saja. Sedangkan cinta yang paling tinggi adalah penyatuan diri hingga saling meniadakan identitas diri dengan yang dicintai.

Pingkan menambahkan, penghargaan atas diri adalah modal bagi hadirnya cinta yang tidak emosional. Perasaan ini dapat muncul jika sejak kecil anak dihargai. Merendahkan anak atau memaksa anak untuk berusaha keras agar mendapat penghargaan dari orangtua akan menyulitkan anak untuk menghargai dirinya sendiri.

Selasa, Maret 04, 2014

Berjuang dengan Bahagia.

#latarbelakang : FAQ (Frequently Asked Question), “Skripsinya udah sampai mana?”

Temen gue bilang bahwa skripsi itu proses “pendewasaan” manusia. Gak salah, tapi menurut gue ada yang lebih dari itu. Skripsi bukan sekedar memperoleh gelar pendidikan S1, tapi mengajarkan bagaimana gue harus setia dalam suatu proses.

Perjuangan ini gue mulai di awal tahun 2013, dimana saat itu dunia belom mengenal istilah cabe-cabean. Setelah gue memutuskan “formulasi” sebagai topik besar skripsi, gue mencoba untuk menghubungi salah satu dosen yang sudah gue dambakan sejak semester 5 dengan maksud untuk menjadi dosen pembimbing.  Ternyata beliau sudah tidak bisa membimbing mahasiswa lagi karena kuotanya sudah penuh.  Gak bisa terlalu disalahkan juga sih karena emang gue orangnya leletan kalo ngurusin hal-hal sepele begituan.

Singkat cerita, gue jadi kepisah juga sama temen-temen sepergaulan karena skripsi. Mereka yang gue banggakan selama ini, karena kita selalu bersama dan mengerjakan banyak hal dengan semangat tinggi meski susah bagi kita untuk serius. Mungkin jalan baiknya, ya harus kepisah dulu beberapa waktu. Terlalu kompak juga belum tentu baik. Takutnya kalo bareng-bareng terus, yang jadi bukannya skripsi malah boyband lokal.

Sampai sekarang (meskipun masih jauh dari kelar), gue sangat bersyukur atas semua proses yang sudah berlangsung. Bersyukur untuk dukungan dan motivasi dari teman sekelompok, teman satu angkatan, dan dosen pendamping beserta revisian naskah dari-nya. Gue masih harus setia dalam proses ini. Sepuluh tahun lagi, gue yakin bakal hidup baik-baik aja tanpa mengerti mendalam tentang formula pasta gigi. Tapi proses ini sayang untuk dilewatkan. Lo bisa nikah dua-tiga kali dalam hidup lo, tapi skripsi cuma sekali seumur hidup lo.

Dan gak usah deh galau skripsi di Facebook atau Twitter, percuma. Kesannya lo cuma pengen dimengerti dan lo juga sadar itu gak bakal membantu. Mending tweet/post kegaulaun itu dalam doa setiap pagi/malam. Lagipula, menurut gue, galau skripsi di media sosial sudah terlalu mainstream keles. Tweet less and do more, nah itu baru antimainstream :)

Buat pembaca, ato mungkin temen gue sendiri yang baca ini, tetap semangat ya! Selalu setia bersama prosesnya, bukan sama skripsinya (dikhawatirkan kalo terlalu setia akan disuruh ganti judul). “Percayalah segala jerih payah yang telah dilakukan tidak akan pernah sia-sia”, temenku Ega bilang begitu.

Jumat, Februari 07, 2014

Putus

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “Putus” mempunyai beberapa pengertian.
 

Satu.
 

Sebut saja Mawar, tapi bukan Mawar AFI. Gadis remaja yang baru belajar logaritma ini menjadi primadona di sekolahnya, terutama di hati Budi yang sempit. Perasaan Budi ini sudah meluap-luap, jauh sebelum Mawar menerima pertemanannya di Facebook. Sambil menabung keberanian, Budi bersama tim kreatifnya mematangkan rencana untuk menembak Mawar saat upacara bendera. Senin berikutnya, nama Budi resmi terukir indah di hati Mawar :)
 

Namun kemesraan itu tidak berlangsung lama. Di suatu malam minggu, Budi mengirimkan telegram kepada Mawar. Bunyi pesannya begini, “Maaf sayang, hari ini kita batal nonton ya. Kaki aku putus dimakan jerapah tadi siang.” Mawar yang saat itu sangat kecewa lalu meluncurkan rudal ke rumah Budi. Seribu hari kemudian, nama Budi sudah resmi terukir indah di batu nisan dari keramik :(
 

Dalam kasus ini, putus adalah ada bagian yang terlepas.
 

Dua.
 

Karena Sleman adalah Jogja coret, Soni dan kekasihnya menyebut hubungan mereka sebagai hubungan jarak jauh. Hingga tulisan ini diturunkan, belum ada rencana dan niat dari pemerintah untuk menerbitkan undang-undang LDR tentang pembagian zona pacaran di wilayah Indonesia.
 

Padahal cukup dengan naik delman-istimewa-ku-duduk-di-muka, Soni dapat mencapai kediaman kekasihnya di Jogja kurang dari setengah jam. Bila penghasilannya sudah cukup, Soni berencana membeli elang biar makin gaul dan sesekali bisa mengantar ibunya belanja baju di Paragon Solo.
 

Waktu berubah, selera musik Soni pun berubah. Dipengaruhi oleh idolanya Janeta Janet dan lagu pacar-lima-langkah, Soni memutuskan untuk mengontrak di dekat rumah kekasihnya di Jogjakarta. Sambil membuka usaha baru disana, laundry kiloan, demi menambah penghasilan. Hidup Soni sekarang sangat bahagia karena selalu dikirimkan makan siang dan cucian rumah kekasihnya.
 

Dalam kasus ini, putus adalah pengambilan suatu keputusan yang rasional.
 

Tiga.
 

Jatuh cinta itu musuh akal sehat.
 

Ada saat dimana pasangan menghadapi masa sulit dalam hubungan mereka karena ketidakmampuan seorang dalam menyeimbangkan keintiman di dalamnya. Bagaimana caranya menyayangi orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri. Bagimana caranya melakukan kesenangan pribadi tanpa menyengsarakan teman hidupnya.
 

Sampai dimana permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan, pasangan memilih untuk putus karena tidak ada lagi rasa saling percaya.
 

Dalam kasus ini, putus adalah mengakhiri hubungan karena suatu keadaan, atau sudah tidak ada rasa saling percaya terhadap pasangan. 
 

***

Tumbuh adalah kepastian, dewasa adalah pilihan. Setiap hari dalam setiap kesempatan, manusia selalu dihadapkan oleh pilihan. Memilih untuk menunda kedewasaan bukanlah pilihan yang baik.

Terima kasih banyak.
19/12/2010 – 2013


Sabtu, Januari 04, 2014

Farewell 2013

Selamat natal. Selamat tahun baru 2014 !!

Asiknya yang tahun baruan dengan pacar, bisa nonton kembang api bersama dari bukit dengan view pemandangan kota (cita-cita yang belom kesampean). Buat yang LDR, mungkin kalian count down bersama di telpon sambil nonton kembang api dari atap rumah masing-masing. Dan buat yang jomblo, gak apa-apa kalian bisa nonton kembang api Dubai di Youtube, ini linknya :


Sehat semua? Gimana perayaan tahun barunya, meriah? Tahun ini saya harus ngerayain natal dan tahun baru tanpa keluarga di Jogja, karena masih ngurusin skripsi sama KKN (kuliah kerja nyalon). But, there’s no reason not to celebrate Christmas day and a new year hehe :)

Resolusi tahun ini. Supaya lebih dewasa, punya pendirian yang baik. Dan selalu rajin menulis blog :)

Sedikit mau menanggapi celetukan orang banyak (padahal ngerasain juga) yang bilang, “Kok cepet ya, udah mau ganti tahun lagi?”

IMHO, yang kadang membuat kita merasa waktu berjalan terlalu cepat karena terlalu mengenang satu kejadian tak terlupakan di tahun ini, mungkin membahagiakan atau kurang menyenangkan. Sehingga, rasanya baru terjadi beberapa waktu belakangan ini. Long-term memory yang tersimpan permanen di otak, mungkin menjawab pertanyaan orang selama ini.

"Buatlah selalu kenangan yang indah dan siapkan diri menerima tiap kemungkinan di setiap harinya untuk setahun ke depan."

Farewell 2013. Welcome 2014.

Minggu, Oktober 13, 2013

Satu orang yang berubah

Ini tahun yang sulit buat seseorang. Berpura-pura menjalani harinya yang biasa, sedikit memaksa tidak menggabungkan permasalahan dengan perasaan pribadinya.

Orang ini “termakan” nasihatnya sendiri di awal tahun. Bilangnya ingin giat berusaha mengejar cita-citanya, tapi tidak pernah serius dan selalu berdalih tidak fokus dalam mengerjakannya. Sampai-sampai banyak pekerjaan yang tertunda.

Orang ini mengajak orang sekitarnya untuk menyayangi orangtua mereka masing-masing. Tapi sebenarnya dia sendiri yang akan membuat kedua orangtuanya khawatir karena tidak bisa menjaga kesehatannya.

Orang ini ingin benar-benar mengupayakan waktunya untuk orang yang dia cintai. Sekarang, dia mau mengupayakan waktunya untuk siapa?

Orang ini bermimpi bisa membuat perubahan besar di tahun yang baru. Dia ingin membuat orang lain terkagum karena suatu pencapaiannya di tahun ini. Tapi bukan mimpi yang tercapai atau perubahan baik yang terjadi.  Dia berubah menjadi orang yang bukan lagi dirinya sendiri. Ada yang bilang “Orang ini mencari kebahagiaannya tapi dengan cara yang bukan dia.”

Apa yang sekarang dilakukan orang ini? Mungkin dia mulai berusaha mengingat semua kebaikan orang terhadap dirinya. Karena permasalahan tidak akan bermasalah, bila perasaan dia tidak bermasalah.

Satu orang bisa berubah karena satu orang yang dia sayang.


Minggu, Juni 09, 2013

Catetan di akhir semester enam

Pendahuluan.

Pengen cepet-cepet kerja, biar capek tapi dibayar. Lha ini kuliah, udah capek malah bayar.

Gak ada reality show “bosan jadi mahasiswa”, ya?

Aku pengen pulang. Rindu sama rumah. Rindu masakan mama. Rindu sama teknologi yamaha.

Demi tuGASSSS!! *gebrak-gebrak meja perpustakaan.

“…” *gak ngomong apa-apa, tapi sambil megang tali jemuran di kamar kos.


Itu adalah beberapa keluhan gak wajar dan kecu (kelewat lucu) dari mahasiswa farmasi di kampus yang (amin, dua tahun lagi bakal) menjadi almamater gue. Semua calon farmasis itu harus akrab dulu sama padatnya praktikum, bejibun-nya laporan dan tugas, juga antrian jurnal.

Penelaahan pustaka.

Kita harus meng-ikhlas-kan sebagian waktu kita buat fokus kuliah, mempersiapkan diri sejak dini, supaya nantinya kita menjadi farmasis berkepribadian tangguh dan tahan banting karena sudah terbiasa selalu bekerja tenang dalam tekanan (kalo pak dekan baca, mesti seneng nih hahahihik). Salah satu bentuk keikhlasan kita yaitu keikhlasan tidur malem. Yang semester 1 matanya cantik kaya Anissa chibi, tapi makin kesini jadi mirip kungfu panda. 

Ya, doa malem dan doa pagi kita bisa digabungin jadi satu (Gani, 2010).

Hipotesis.

Bahagia itu sederhana.
Pembahasan.

Saya selalu berusaha menjadi maba, mahasiswa baru bahagia, dengan menyelipkan kesenangan di tengah-tengah kesibukan hidup sebagai mahasiswa. Tapi hati-hati, jangan sampai terlena pada kesenangan atau hanya terjebak dalam kesibukan akibat rutinitas pekerjaan sehari-hari. Intinya, bagaimana cara menjaga keseimbangan antara kesenangan dan kesibukan. Hidup gak bisa untuk bersenang-senang saja, namun perlu adanya kemauan pribadi mencari kesibukan untuk pengembangan diri sendiri. 

Rasanya semester ini gak sebahagia kaya dulu, rasanya kaya bukan diri sendiri yang ngejalaninnya. Banyak kesalahan yang terlalu dipikirin. Banyak pikiran yang dicampurin sama emosi. Kadang jadi ragu sama motto hidup yang pernah gue bilang di twitter : Bahagia itu sederhana. But, life must be lived, we don't now what will happen 5 minutes later.

Lampiran.

Contoh keisengan yang menjadi kesenangan, selingan pas meratapi jurnal Pomegranate. Ini pas minggu pentakosta pertengahan bulan Mei, untungnya sempat diabadikan huakakak.

Bukan rasul, soalnya sipit dan gak lancar bahasa cina roh

Sering gue pake sambil ngerjain tugas depan laptop. Tapi sekarang udah rusak, gara-gara ketiduran lupa dilepas.

Kesimpulan.

Bahagia itu (masih) sederhana.

Senin, April 01, 2013

Paskah : Perayaan Kemenangan

Derek Redmond adalah pelari pemegang rekor 400 meter dari Inggris. Pada olimpiade musim panas di Barcelona 1992, ia mulai berlari namun larinya terhenti pada 150 meter. Derek jatuh karena cedera hamstring. Derek terisak-isak. Ia terkapar di arena lari. Ia bangkit. Ia berlari, sambil terpincang-pincang menahan rasa sakit. Beberapa official mendekatinya dan menyuruhnya berhenti, namun ia tak menggrubisnya. Ia terus berlari.

Tiba-tiba dari kerumunan penonton, seseorang berlari mendekatinya. Setelah berhasil menerobos penjagaan pihak keamanan stadion, ia merangkul Derek. Ia mengatakan, "Nak, sebaiknya kamu berhenti. Tidak mungkin kamu bisa menang." Derek menjawab, "Tidak, aku harus berlari sampai finish." Orang itu berkata lagi, "Baiklah, mari kita berlari bersama. Ulurkan tanganmu di pundakku." Demikianlah mereka berdua berlari sepanjang lintasan, sampai garis finish. Derek kalah dari lomba, namun ia menang melawan rasa sakitnya. Pria yang mendukungnya dengan sepenuh hati adalah ayahandanya, Jim Redmond.

Saudaraku yang terkasih, kemenangan itu tidak selalu harus menjadi nomor satu, kemenangan juga bukan hanya melulu soal kejayaan, jabatan, dan kedudukan. Kemenangan Yesus bukan hanya sekedar kemenangan terhadap maut, tapi Ia juga menang mengatasi rasa takut-Nya saat Ia berdoa di Taman Getsemani. Ia menang melawan godaan Iblis dan dengan berani tetap setia menjalankan panggilan-Nya sebagai Putra Allah sampai mati di kayu salib demi menanggung dosa seluruh umat manusia.

Kemenangan kita juga hendaknya meneladan kemenangan Yesus. Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Saat kita menang mengatasi rasa takut kita, menang terhadap rasa malas, rasa khawatir, pikiran-pikiran negatif itu adalah kemenangan sejati kita. Garis finish kita adalah kematian. Saat kita berjuang meraih kemenangan di dunia, Bapa kita yang melihatnya yang tersembunyi, terus mendukung dan menggendong kita. Dengan dukungan-Nya lah kita menjadi semakin dikuatkan. Semoga Paskah ini, memberikan keberanian bagi kita untuk berhasil meraih kemenangan. 


Selamat Paskah. Semoga Tuhan memberikan berkat Paskah yang berlimpah bagi Anda dan keluarga.

Disadur dari : Renungan SPBU (Santo Paulus Berita Utama) - Minggu Paskah 31 Maret 2013

Minggu, Maret 10, 2013

6 Februari 2013

Untuk pertama kalinya gue mengalami kecelakaan motor di Jogja. Dan kronologisnya demikian : 

Hari ini gue masih libur kuliah dan janji mau nemenin si pacar ngurus paspor di kantor imigrasi Bandara Adisujtipto Yogyakarta. Karena  males ngantri, jadi kita kesana agak pagian aja. Oke, jam 8 gue bilang sampe di rumahnya. 

Cuaca pagi ini cerah, mood juga lagi bagus, dan gue berangkat lewat jalan biasa. Sampai di daerah UKDW, gue yang lagi kencengan bawa motor kaget gara-gara mobil sedan di depan melambat mendadak. Belom sempet “koprol sambil bilang WOW”, gue melancarkan dua rem sekaligus (rem ketiga, alias rem-kaki-kiri-menyentuh-tanah gagal dioperasikan). Alhasil roda belakang malah selip, motor goyang, dan gue resmi jatuh ke tanah dengan posisi badan bagian kanan duluan. 

Kejadian ini mirip seperti di pelem The Last Samurai, dimana si Tom Cruise jatuh ke kanan juga setelah kudanya ditebas sama musuhnya. Bedanya, gue jatuh dengan muka yang lebih ganteng karena tertutup helm semi-full face. 

Jadinya, gue dibawa ke Bethesda untuk di-rontgen, karena pandangan pertama gue pada sikut tangan kanan menyimpulkan kalo itu “sengkleh” atau geser. Dalam hati gue mengeluh pada Tuhan, “Mengapa setelah otak, giliran sikut ini yang harus bergeser ya Tuhan?” 

Dan gak lama kabar baik datang dari hasil rontgen : posisi tulang masih pada tempatnya dan persendian baik-baik saja. Sementara gue mesti di perban elastis dan mengobati lecet-lecet yang cukup parah karena kecerobohan sendiri. Biar nanti bekas lukanya menjadi "intisari" yang terus diingat setiap saya melihatnya.

Setelah beres semua di UGD, gue dianter sama keluarga Tante Roes ke rumah Susan untuk istirahat di sana dulu. Sementara barang bukti berupa motor Supra menginap di tempat Susan untuk beberapa hari. Disini gue baru ngabarin keluarga di Bandung. Abang gue si Leo yang pertama nelpon

“Han, katanya kamu kecelakaan?”

“Iya Le, tadi pagi” 
 
“Terus motor gimana?” 
*trus ada hening yang agak panjang, setelah menata nafas gue lanjut cerita soal MOTOR. 
“Pokoknya kamu servis semuanya, stang motor, cek pirodo rem juga. Kamunya gak apa-apa?”
 
TUT TUT TUUUTTT 

Untungnya ini adalah kecelakaan tunggal, karena cuma gue sendiri yang jatuh dan gak boncengin siapa siapa. Untung beliung kedua, gue jatuh DEKET banget sama RS Bethesda dan kebetulan bawa kartu berobat (dalam bahasa penyair : Jatuh di tempat dan moment yang tepat). Untung yang terakhir, saya tidak mendapatkan luka serius tapi saya mendapatkan pelajaran baik hari ini :) 

Makasih Susan, maap ya padahal kamu udah dandan cantik buat foto paspor. Kalo boleh sih, saya bluetooth aja foto ini ke petugas imigrasi-nya.

(Si pacar, foto diambil di hari tersebut)

“Kalo ga bisa jaga badan sendiri, gimana mau ngejaga badan orang yang saya sayang.”

Jumat, Januari 11, 2013

Selamat Tahun Baru 2013

Moment Tahun Baru selalu menjadi kesempatan untuk “memulai” hal baru. Meski yang kamu cita-citakan tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin, kan?

Tidak ada pencapaian yang mudah. Bila mudah, berarti semua orang bisa melakukannya. Lakukan yang bisa dilakukan oleh sedikit orang atau yang orang lain tidak bisa lakukan. Be outside the box, be yourself!

Usahakan dengan giat apa yang kamu cita-citakan. Jangan takut untuk gagal. Karena kegagalan pasti ada dan dipikirkan hanya pada saat itu saja. Jangan menjadi beban di awal, nikmati kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di setiap harinya.

Terkadang kita perlu menjadi “bodoh” dalam beberapa hal. Selalu belajar untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang lebih baik.

Bertambah tahun bertambah tua pula hari-harimu di dunia. Sayangi orangtuamu, cukup dengan tidak membuat mereka khawatir akan kesehatanmu.

Mulailah mencari seseorang yang nyaman untuk mendengarkan ceritamu. Walaupun belum tentu menyelesaikan masalah, setidaknya dapat lebih meringankan beban pikiranmu.

Bila kamu benar-benar mencintai seseorang, berarti kamu benar-benar mengupayakan waktumu lebih banyak untuk dia.

Sampai ada orang yang kagum dan bilang, “Kamu udah banyak berubah”, artinya kamu sudah menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Kata teman saya, Tuhan itu adil. Ya, kamu akan menghadapi permasalahan yang biasa dihadapi oleh orang-orang seusiamu. 


Selamat menyongsong Tahun Baru, jalani dengan penuh keoptimisan!

Sabtu, September 22, 2012

pepe mimir sasa, PEMIRSA!

Menginjak bulan ke-sembilan tahun ini, pikiran gue bercabang-cabang. Salah satu cabangnya soal kunjungan industri.

Yoh, semakin dekat dengan bulan Oktober, berarti Kunjungan Industri FST Bandung-Cikarang 3 mingguan lagi. Persiapan yang sudah dimulai sejak Mei, masih saja ada kendala untuk dua tempat industri dan tempat wisata yang belum ditentukan. 

Sempat terbayang, gimana kalo kita rame rame nonton Bukan Empat Mata? 

Tukul (di awal acara) : Ini yang pake almamater cokelat dari manaaaa?

Uda gitu apa? 

Tukul menjerit : PEMIRSA, pepe mimir sasa pemirsa !
Kita : ea! ea! ea! eeeeaA! *sambil fokus ke gerakan tangannya.

Sejauh ini, panitia bekerja sudah baik, partisipasi dan antusias temen-temen FST juga oke, gue bersyukur selama proses-nya ada mestakung. Ferron, Kalbe, Sanbe, Medion sudah memberi kepastian menerima kunjungan kita dan biro perjalanan sudah dapat yang cocok.

Semoga masalah-masalah cepat terselesaikan, acara Oktober nantinya berjalan lancar, baik teman-teman dan dosen pendamping diberi kesehatan yang cukup!

FST, Bisa!!

Rabu, September 12, 2012

"Segalanya dapat terjadi"

Refleksi dari sebuah film berjudul “Lorenzo’s Oil” tahun 1994

Film ini menceritakan kisah perjuangan keluarga untuk kesembuhan anaknya, Lorenzo, yang terdiagnosis menderita penyakit ALD. Kedua orangtua Lorenzo bukan berpendidikan seorang dokter atau ilmuwan, mulai dari nol mereka mempelajari segala materi mengenai penyakit tersebut secara mendalam. Sampai pada akhirnya, diceritakan kesembuhan Lorenzo dari hari ke hari dan penelitian tentang penyakit ALD serta penemuan obat baru yang berguna bagi hajat hidup orang banyak. Kata-kata kunci disini adalah semangat dan daya juang yang tinggi, pantang menyerah, penuh motivasi dan kreasi.

“Kadang perhatian ilmuwan tidak sama dengan perhatian orangtua”

Satu kutipan menarik dari film tersebut yang menurut saya dapat memberi gambaran tentang motivasi. Pada film diceritakan, motivasi pribadi keluarga tersebut untuk kesembuhan Lorenzo, tanpa disadari menjadi penemuan untuk hidup anak-anak lain penderita penyakit ALB meski diawalnya bergesekan dengan segala prosedur profesi. Pekerjaan yang didasarkan pada motivasi, secara tanpa sadar menjadi konspirasi semesta yang mendukung mimpi seseorang.

“Jangan tunjukkan rasa putus asa kita”

Putus asa merupakan musuh terbesar yang berasal dari diri sendiri yang menghambat proses kreativitas seseorang mencapai impiannya yang besar. Faktor “orang-orang sekitar” yang kadang memunculkan statement “mustahil”, memicu rasa putus asa yang semula kecil dan akibatnya, tercipta sugesti bahwa pekerjaan yang selama ini dikerjakan hanya sia-sia belaka. Kunci melawan rasa putus asa adalah kesabaran dan ketekunan.

Cita-cita saya di umur 40 tahun ingin melihat Indonesia bener, saya ingin memberikan kontribusi kepada bangsa menjadi lebih baik, semoga sejalan dengan bidang yang saya tekuni sekarang yaitu kefarmasian. Entah apa kontribusi yang nantinya akan saya berikan, dari sekarang saya harus memupuk diri saya sendiri dengan ilmu-ilmu yang memadai, motivasi yang lebih besar, daya juang serta daya tahan terhadap tekanan dari lingkungan sekitar. Semoga Tuhan menyertai usaha dan niat saya ini.