Rabu, April 25, 2012

OFF-Line

"Hah? kamu pikir Bandung kaya Solo apa, cuma sejam dari sini?" 

Setelah UTS beres dan satu kepanitiaan juga selesai, malem ini gue mw off dulu dari Jogja.. Bukan libur panjang, cuma kebetulan hari Jumat praktikum lagi kosong dan beberapa mata kuliah bisa ikut di hari lain.. 

Alasan pulang Bandung yang pertama, gue kangen rumah dan semua yang ada di dalamnya.. Kedua, gue butuh refreshing dari semua rutinitas harian selama ini.. Dan ketiga, semoga kepulangan ini menjadi stimulus baru supaya bisa menyelesaikan sisa semester ini dengan ceria dan berangkat ke Mesir ikut lomba (ngarep)..

Rumah adalah tempat paling aman di dunia ini, kan?


 Yang selalu saya banggakan dan rindukan disini

Sabtu, Maret 17, 2012

Sepenggal cerita dari Dixie..

Bulan Maret ini, gue punya profesi baru menjadi superhero bernama busy-man, manusia tersibuk kedua di Indonesia setelah Pak SBY..

Welcome March! Ya baru inget kalo terakhir update blog awal februari pas perayaan Cap Go Meh.. Sekarang uda minggu kelima perkuliahan semester genap dan saat ini gue seorang mahasiswa semester empat, seorang kakak kelas teladan bagi adik-adik kelasnya, dan seorang penghobi gigit tutup bolpen.. Krauk!

Masih ingatkah dengan temanku bernama Angga? Berikut adalah wujud (astral) makhluk aseli Sumatera Selatan ini..

Angga, sebelom bertanding dan sebelom sepatunya jebol..

Jadi inget pas kelas statistika dua minggu silam.. Gue duduk paling depan, dijepit Angga sama Tomas..

Pak Dosen : "Kalkulator bukan komputer, kalkulator gak bisa nge-hang.."

Hans : "Wueleleleh kalkulator saya kena virus pak huakakakakk.."

Angga : "Otak lu hans yang kena virus.."

(Malemnya jam 8, gue nonton si Madun sambil belajar tendangan "macan ngamuk" buat mentalin si Angga)..

Oyah, malem ini gue nulis blog ditemenin sama Susan di Dixie Gejayan.. Suasananya cukup enak, agak remang-remang gitu, koneksi internetnya juga cukup kenceng disini.. Susan pesen pasta Meat Lover, sedangkan gue pasta Mushroom Chunk.. Semakin lama dimakan, jadi semakin ngerasa salah pesen menu.. Gue ketipu sama gambar, nyatanya gak cocok sama selera gue.. Pelajaran buat besok kalo dateng ke Dixie lagi, pesen yang pasti-pasti aja.. AIR PUTIH !!

Dan tanggal tua datang lebih cepat pada bulan ini.. Awuuuuuu

Kamis, Februari 09, 2012

Perayaan Cap Go Meh 2012

Ini momen-momen yang berhasil di abadikan saat Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta ke-VII yang berlangsung pada tanggal 2 - 6 Februari 2012.. Karena cuaca yang kurang bersahabat, jadi baru jalan-jalan kesana hari Minggu dan Senin besoknya (dibilang sih hari Minggu-nya ada Demian, ya jadi Senin kesana lagi siapa tahu ada Jackie Chan)..

Tahun Naga Air



Susan with new hair (chibi-maruko-chan sytle)

Si ganteng

"China Town" kecil di Ketandan

Kalo pake telur ayam 10 ribu, kalo telur bebek 12 ribu

Lontong Cap Go Meh, jadi menu wajib (15 ribu)

Wayang Sun Gokong, cukup banyak yang nonton

Di Nol Kilometer, abis nonton kembang api sama makan es goreng Pak Gatot


Kembang api terbagus dan ter-DEKAT selama 20 tahun "hidup"

Di kota kamu bagaimana? Ayok share disini..

Rabu, Februari 01, 2012

Sharing Acara PPKM

Selama tiga hari ikut PPKM, gue banyak belajar sesuatu, terutama tentang “kekuatan menulis”..

PPKM ini kegiatan pengembangan kepribadian mahasiswa di kampus gue (USD), sasaran mereka sebenarnya adalah mahasiswa tahun pertama yang hendak ke jenjang semester dua..
Tapi, gara-gara tahun lalu baru keluar opname, gue melewatkan acara penting ini..

Jadi, intinya, PPKM kemaren bareng sama adek-adek kelas gue..


Tujuan utama dari kegiatan PPKM adalah menggali potensi diri, dan sesuai dengan ajaran Jesuit (ajaran dari Iman Katolik yang jadi landasan berdirinya USD), bahwa segalanya dimulai dari refleksi diri sendiri.. Topik ini menjadi inti dari pertemuan di hari pertama..


Dan merasa beruntung juga punya kesempatan dibimbing dengan Pak Yosef, sebagai fasilitator kelompok.. Beliau adalah dosen farmasi, mungkin semester empat besok masih belum dapet matakuliah beliau.. Tapi, ini kesempatan bagus untuk mengenal sosok beliau terlebih dahulu..


Di hari kedua, sharing menjadi semakin menarik.. Sesi pagi menjelaskan tentang perbedaan sikap proaktif dan responsif.. Dalam kehidupan sehari-hari, selama kita menjalani, banyak stimulus-stimulus yang mengarah ke kita.. Satu contoh stimulus, seperti, dosen yang mengomentari presentasi kita secara berlebihan.. Apabila sifat responsif dalam diri sangat kuat, kita menanggapi komentar dosen tersebut negatif, mengomel-ngomel, menunjukkan sikap tidak terima.. Bandingkan dengan mereka, yang bersikap proaktif, segala stimulus yang mengarah ke kita akan ditanggapi positif, untuk perkembangan diri lebih baik.. Terkait sikap proaktif di atas responsif, mungkin belum bisa kita jalani sepenuhnya..


Ada jeda istirahat, gue dapet konsumsi yang isinya jajanan pasar, salah satunya lemper dibungkus kulit lumpiah (for the first time, I tried this strange food).. Hahaha


Lanjut ke sesi siangnya, singkatnya semua peserta diminta untuk menulis misi hidup.. Selama dikasih waktu perenungan 10 menit, Pak Yosef menerangkan arti dari “kekuatan menulis”.. Dari sharingnya, Pak Yosef adalah blogger aktif, penulis buku, dan berani berbagi misi-misi yang ia tulis beberapa tahun terakhir..


“Ada suatu hal yang saya dapatkan setelah misi saya terwujud,”
kata beliau..

Berani menulis, dan berani berusaha mewujudkannya.. Inilah misi yang gue tulis dan sempat diminta untuk di-share bersama teman :


“Saya ingin melihat Indonesia bener, saya ingin memberikan kontribusi bagi bangsa ini, baik sejalan dengan bidang yang saya tekuni sekarang atau di luar itu.. Saya berharap dapat menemukan pasangan hidup yang seiman dan sepahan, mempunyai keluarga yang utuh, bahagia, dan dikaruniai anak yang sehat..”


Setelah itu, Pak Yosef bertanya gue mau punya anak berape (kok jadi betawi?), ya gue jawab tiga.. Dan semoga laki-laki semua, biar bisa temenin nonton bola subuh-subuh (hehe)..


Di hari ketiga, hari terakhir kegiatan PPKM.. Sesi pagi dimulai dengan topik menentukan skala prioritas.. Belajar time management, pengalaman energy management dari Pak Yosef, dan membagi prioritas kegiatan sehari-hari, mulai dari yang penting, tidak penting, mendesak, dan tidak mendesak.. Bocoran untuk semester empat, jadwal kuliah dan praktikum makin padat, dapet kelas Etika Per-UU dua SKS sampe jam 8 malem *menepuk dada..


Terakhir, untuk aksi nyata di sekitar kampus, kita sekelas bagi-bagi stiker perlawanan anti rokok.. Aksi nyata sebagai bagian dari kepedulian akan kesehatan, karena kepedulian pertama dimulai dari diri sendiri, untuk sesama..


Itu pengalaman gue ikut PPKM kemarin..

Minggu, Januari 22, 2012

Renungan Perayaan Imlek 2563

Peranakan Tionghoa, Politik dan Implementasinya..

Tumbangnya Rezim Soeharto (Orba) pada tg 21 Mei 1998 yang didahului dengan Tragedi Mei 1998, lalu disusul dengan diakui dan diberlakukannya Imlek sbg Hari Besar Nasional, maka hal ini menjadi satu tonggak penting diakuinya keberadaan Etnis Tionghoa menjadi bagian Integral yang tak terpisahkan sebagai Komponen Bangsa Indonesia.


Kita harus mengakui bahwa “pembebasan” ini diprakarsai oleh Gus DUR Presiden ke 4 RI. Beliau-lah yg mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 yang dibuat oleh Rezim Soeharto yang melarang Perayaan dan Adat Istiadat yang berbau “Cina” termasuk menutup sekolah-sekolah berbahasa Mandarin. Hal ini membuat terkuburnya indentitas Tionghoa selama lebih dari 30 Tahun, bukan cuma itu Soeharto juga mendirikan sebuah Badan yang disebut dengan BKMC (Badan Koordinasi Masalah Cina) dengan maksud mengawasi semua pergerakan dan aktifitas para Peranakan dan Keturunan Tionghoa. Hal ini layaknya para keturunan Tionghoa ini “bermasalah”, kita tak tahu kenapa Soeharto menanggap para Keturunan Tionghoa ini bermasalah, tindakan-tindakan represif dan tekanan yang bertubi-tubi mendiskriminasi habis kreatifitas dan keberadaan para keturunan Tionghoa.

Bahwa Gus DUR lah (yang notabene dan secara terbuka beliau mengakui bahwa beliau masih punya Darah keturunan Tionghoa) yang “membuka pintu” untuk kembali berkembangnya Budaya dan Tradisi Tionghoa, hal itu tak bisa dipungkiri dan jasa ini sungguh tak terhingga, bahkan harus selalu dikenang oleh semua orang Tionghoa yang hidup di Indonesia layaknya seorang Pahlawan.

Apakah sudah cukup hanya diakui seperti itu ? Rasanya masih banyak yang harus dilakukan oleh warga Tionghoa pada masa sekarang ini. Kalau pada Zaman Revolusi dulu sudah terbukti bahwa Kaum Keturunan Tionghoa itu bisa berjuang bahu-membahu dan mengambil peran dengan para pejuang yang lain dalam merebut Kemerdekaan dari tangan penjajah, maka pada masa sekarang ini sebenarnya para etnis Tionghoa juga dituntut untuk lebih menunjukan “Ke-Indonesian-nya” ketimbang “Ke-Tionghoa-annya
” semata, karena hanya dengan bisa menunjukan "Ke-Indonesia-an" itulah kaum Tionghoa bisa menunjukan bahwa dalam dirinya masih ada yang namanya Nasionalisme.

Sekarang ini dengan telah diberlakukannya UU No 6 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, disitu telah disebutkan dengan tegas bahwa Tidak Ada lagi istilah Pribumi dan Non Pribumi, semuanya yang dilahirkan di Bumi Indonesia dari orangtua yang sudah WNI secara otomatis adalah Warga Negara Indonesia Asli. Semua ini membuktikan bahwa dari segi Peraturan, Perundangan dan Kedudukan para keturunan Tionghoa ini sudah sama dan sejajar dengan Warga Negara Indonesia yang lain. Hak dan kewajibannya pun sama dengan etnis-etnis lainnya seperti Jawa, Sunda, Batak, Padang, dsb.


Nah, disinilah kita dituntut untuk memainkan peran yang sama dan harus bisa bersatu dengan etnis-etnis lain serta menanggap Indonesia sebagai “Rumah” dan sebagai Tanah Tumpah Darah.


Sekarang ini nyaris tak ada bidang-bidang yang tidak mengikutsertakan etnis Tionghoa, semisal Sosial, Budaya, Kemasyarakatan, Ekonomi, Olahraga, dan bahkan tidak sedikit orang-orang Tionghoa yang terjun dalam Bidang Politik, bidang yang semasa Orba banyak dihindari oleh orang Tionghoa.


Dalam bidang politik ini juga sudah banyak orang-orang peranakan Tionghoa yang terjun dan punya prestasi serta posisi yang cukup menonjol. Ada yg menjadi Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, dan Anggota DPR, tetapi kita juga tahu bahwa sebagian besar orang Tionghoa itu bersikap apatis, pesimis, dan bahkan terkesan alergi politik dan “angkat tangan“ dalam hal ini, lalu terkesan menyerahkan urusan politik ini kepada pihak-pihak lain tanpa peran serta kita, yang sebenarnya hal ini tidak boleh dilakukan.


Sebenarnya, warga peranakan Tionghoa sebagai komponen bangsa Indonesia itu harus “melek” atau sadar politik dan tahu arah perkembangan politik yang terjadi. Hal ini bukan saja membuat kita jadi tahu arah perkembangan politik tetapi juga bisa membuat kita sadar dan tahu siapa-siapa saja Politikus yang Negarawan dan Politikus Telur Busuk. Walaupun melek politik ini bukan dengan maksud terjun dalam Politik Praktis apalagi terjun dalam Politik Kekuasaan.


Kebiasaan “melek” politik ini sudah harus ditumbuhkan sejak dini seiring dengan makin terbukanya semua bidang untuk dimasuki oleh peranakan Tionghoa, tapi yang harus tetap dijaga adalah sifat-sifat euforia yg berlebihan, terutama dalam perayaan-perayaan seperti perayaan Imlek kali ini. Sikap tepo-seliro harus tetap dijaga, paling tidak hal itu bisa menjaga agar tidak merebak lagi kecemburuan sosial.

Dan yang harus lebih dikembangkan adalah sifat kebersamaan.
Dengan perayaan imlek kali ini, mari kita jadikan momen ini untuk menjadi momen saling introspeksi diri dan mawas diri agar tercipta suasana damai dan sejuk sebagai pengejawantahan dari pengendalian diri demi kewajaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita juga berharap bahwa prasangka antar etnis bisa dibuang jauh-jauh dari bumi Indonesia, karena Bangsa Indonesia akan mudah terkoyak dan tercerai-berai kalau bibit-bibit sentimen antar etnis maupun antar agama ini masih saja dipelihara dan dibiarkan berkembang. Sentimen antar etnis dan penekanan terhadap minoritas (dari segi apapun baik itu etnis maupun agama) harus segera dihapus dari Bumi Pertiwi ini agar dikemudian hari bibit-bibit kebersamaan bisa tumbuh dengan subur di Bbumi Pertiwi ini.


Kaum keturunan Tionghoa harus bisa mengendalikan diri, serasa dan sepenanggungan dengan komponen bangsa yang lain agar kita ini juga diterima dengan segala kewajaran dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Indonesia.

Dan akhirnya kami ucapkan :

Sin Cun Kiong Hi (新 春 恭 喜) ,


Thiam Hok Thiam Siu (添 福 添 壽),

Xin Nian Kuai Le (新 年 快 乐)


Semoga Sincia ini membawa Kesehatan, Berkat dan Kemajuan bagi anda semua.


恭喜發財,
GONG XI FA CAI


新年快樂,
XIN NIAN KUAI LE


身體健康,
SEN THI JIAN GANG


萬事如意,
WAN SHI RU YI


年年有餘,
NIAN NIAN YOU YIE








Sumber : FaceBook Tionghoa Indonesia, 22 Januari 2012, pukul 18.00